Literasi Pondok Cikedokan - Bekerja Bagaikan Bambu

Api Intelektual untuk Mereka yang “Paremeun Obor”: Resensi Buku Jan Breman

Resensi buku Jan Breman yang membongkar warisan kolonialisme, kapitalisme, dan rasisme. Esai-esai kritis dalam buku ini menggugah kesadaran sejarah dan sosial Indonesia. Jan Breman mengulas masalah ketidakadilan yang dialami kelas pekerja akibat praktik kolonialisme dan rasialisme.

Isi dan Kritik Buku Kolonialisme Jan Breman

Gambar sampul depan buku De koloniaal als toean besar yang diambil dari buku Eberhard Freiherr von Wechmar, Delianer. Collectie lithografieën, 1927, secara tersirat berhasil menyampaikan pesan yang kuat mengenai kuasa tuan besar kolonial, borjuis berkulit putih, dengan perawakan dan atribut-atribut kolonialnya, mengenakan pakaian putih, topi, cerutu dan mobil. Sementara foto sampul belakang buku De koloniaal op inspectie menunjukkan gerak isyarat tuan besar yang sedang melakukan inspeksi pekerjaan mereka yang dikolonisasi.

Jan Breman mengawali buku dengan kutipan pembuka yang diambil dari novel karya Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia (hlm.v).

“Tahukah para siswa apa politik kolonial?” Tak berjawab.

“Itulah stelsel atau tatakuasa untuk mengukuhi kekuasaan atas negeri dan bangsa-bangsa jajahan. Seorang yang menyetujui stelsel itu adalah orang kolonial. Bukan saja menyetujui, juga membenarkan, melaksanakan dan membelanya. Termasuk di dalamnya adalah juga mereka yang bertujuan, bercita-cita, bermaksud, berterimakasih pada stelsel kolonial.”

Buku ini memang membahas masa lalu dan dimaksudkan untuk menunjukkan bagaimana pengaruh cara kerja kolonial pada Indonesia masa kini dan yang akan datang.

“Membaca buku ini pun membuat pertanyaan bagaimana diskriminasi yang dilakukan oleh kaum kolonial itu, juga dilakukan oleh elite, para penguasa terhadap rakyatnya di tanah air kita sendiri.”

Warisan Rasisme dalam Pemikiran Jan Breman

Buku ini kumpulan esai Jan Breman yang sebelumnya dipublikasi secara terpisah dan dirangkai dengan apik. Breman dikenal sebagai seorang peneliti sosial dan  dengan fokus lokasi studi di Indonesia, selain India. Sebagian dari esai-esai itu meninjau kembali tema yang diangkat dalam buku-bukunya yang mendapat perhatian para ilmuwan sosial, sebagian di antaranya terbit dalam bahasa Indonesia.

Buku-buku Jan Breman dalam bahasa Indonesia yaitu Penguasaan Tanah dan Tenaga Kerja, Jawa di Masa Kolonial (Jakarta LP3ES, 1986), Menjinakkan Sang Kuli Jan Breman Politik Kolonial Pada Awal Abad Ke-20 (Jakarta: Grafiti Press, 1992), dan Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa, Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa, 1720-1870 (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2014). Perhatian  Breman masalah ketidakadilan yang dialami kelas pekerja, Ia menunjukkan bahwa  dan rasisme menjadi dasarnya. Meskipun hal itu merupakan praktik dari gagasan dan susunan kekuasaan di masa lampau, hal itu tetap hidup dan berpengaruh hingga sekarang.

Dalam pengantar, Jan Breman menulis, ”(K)enyataannya, kekuasaan kulit putih menghalangi cara pandang masyarakat Indonesia dalam melihat sejarah mereka sendiri selain dari sudut pandang dan teropong Barat sehingga masyarakat ini juga menjadi kehilangan kesempatan untuk menemukan jalan mereka sendiri menuju masa depan yang lebih baik” (hlm xx). Pareumeun obor dalam bahasa Sunda, atau kepaten obor, adalah istilah metaforik dalam istilah bahasa Jawa, cocok sebagai padanan ungkapan Jan Breman itu.

ilustrasi

Breman berargumen bahwa “asal-usul dan kelas dari pengkaji ilmu-ilmu sosial memengaruhi sumbangan analitisnya pada bidang riset yang dikaji. Pengetahuan profesional yang didapatkan pengkaji saat menimba ilmu memberi tambahan pandangan terhadap sistem sosial dan dinamika yang telah dia kuasai sebelumnya” (hlm 4). Pembaca edisi Indonesia tidak sepenuhnya mendapatkan detail cerita masa kecil Breman. Namun, naskah penting itu tidak diterjemahkan dan hadir sebagai pengantar. Sementara dalam edisi bahasa Inggris, terbit pada tahun 2024, terdapat suatu prolog “The Formative Impact of Childhood: Life Experiences in a Comparative Setting of Time and Space”.

Bagian pertama, ”Tentang kolonialisme dan rasisme” sangat penting, karena meletakkan pandangan sejarah geografi, yang memberi pemahaman bagaimana sejarah kolonial memberi landasan berlakunya praktik rasisme, yang menyebabkan rakyat pribumi di negeri-negeri yang dikolonisasi orang kulit putih hidup menderita.

Breman menjelaskan bagian ini dengan memulai cara bagaimana Alexis de Tocqueville, seorang filsuf politik dari Akademi Sains Perancis, meletakkan konsep ketidaksetaraan sebagai dasar imperialisme. Melalui buku De la democratie en Amerique (1835), ia menjelaskan bagaimana baik di dalam maupun di luar institusi perbudakan Amerika, orang kulit hitam dibuat menderita secara mengerikan dari “prasangka tuan besar penguasa, prasangka ras, dan prasangka warna kulit”—sebuah prasangka yang mendapat kekuatan dari pembicaraan bohong tentang perbudakan berdasarkan “keunggulan alami” orang kulit putih.

“Perhatian utama Breman masalah ketidakadilan yang dialami kelas pekerja, Ia menunjukkan bahwa kolonialisme dan rasisme menjadi dasarnya.”

Selanjutnya, Breman menunjukkan bagaimana andil John A Hobson (1902) dalam Imperialism: A Study, yang menjelaskan konsep imperialisme sebagai perluasan kekuasaan politik negara-negara Barat atas wilayah non-Barat. “Gagasan ideologis konsep itu dia peroleh dari Perang Petani yang dikobarkan oleh Kerajaan Inggris dalam dua dasawarsa terakhir abad kesembilan belas di Afrika Selatan” (hlm. 5).

Dalam kata pengantar Imperialism: A Study edisi pertama tahun 1902, JA Hobson, sejarawan dan ekonom Inggris, menunjukan suatu kekuatan khusus yang membentuk perang yang berlangsung pada saat ketika era Victoria berakhir dan Perang Dunia I mulai terjadi. Menurut Hobson, “Imperialisme telah diadopsi sebagai kebijakan yang kurang lebih dilakukan secara sadar oleh beberapa negara Eropa dan mengancam akan meruntuhkan isolasi politik Amerika Serikat.” Meskipun buku ini sebagian besar berbicara tentang imperialisme Inggris pada masa itu, Hobson mengeksplorasi prinsip-prinsip umum dan motif tersembunyi dari kebijakan imperialis. Ketika imperialisme kembali menjadi topik hangat di arena politik, buku Hobson memberikan wawasan yang sangat berharga dan penting mengenai isme yang kompleks ini.

Esensi Demokrasi Sosial: Sorotan Terakhir Jan Breman

Bagian dua buku ini memberi pesan mengenai arti penting perjuangan untuk kesetaraan dalam perjalanan waktu panjang sejak kaum kolonial datang, menguasai dan memecah-belah, lalu munculnya kebangkitan bangsa untuk perjuangan kemerdekaan dan pembentukan negara republik, hingga pascakolonial sekarang ini. Bagian ini menjadi api pemberi cahaya untuk mereka yang hidup dalam kegelapan karena api obornya telah mati untuk bisa menerangi apa yang berlangsung di masa lampau. Nilai supremasi Barat atas manusia-manusia yang dijajah telah dan terus dihidupkan dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, adalah perjuangan panjang yang terus-menerus untuk mengatasi isme-isme yang mendasari hubungan-hubungan kolonial, kapitalis dan rasis.

ilustrasi

Jan Breman telah berjasa menghadirkan kembali skandal mobilisasi kuli dari Jawa ke Sumatera Timur melalui buku Menjinakkan Sang Kuli. Istilah kuli itu sendiri berasal dari pengertian sebagai barang yang begitu saja dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Memperlakukan manusia Jawa sebagai kuli dan menjadikannya tenaga kerja perkebunan dalam kondisi kerja yang kejam dan buruk, sungguh perbuatan rasis dari kaum kolonialis dan kapitalis yang jahat.

Bagian tiga buku ini, Tetap Perlunya Ada Pendudukan, memberi pengertian bagaimana rasisme menjadi satu dasar untuk motif keuntungan ekonomi, lalu motif membuat pribumi lebih beradab melalui politik etis, hingga penindasan dan kooptasi kolonial. Dalam bagian ini pula, kita dapatkan uraian perlawanan dari kaum nasionalis terhadap rasisme dan pendudukan kolonial dan sikap penyesuaian diri ras orang Timur Asing dan China.

Dari bab “Pemertahanan dan Pengelolaan Wilayah yang Menguntungkan”, pembaca mengerti alasan ekonomi dan debat mengapa kolonialisme harus dilanjutkan meski berhadapan dengan tuntutan-tuntutan akan kemerdekaan. Semua uraian di bab lima ini merupakan alas yang cocok untuk bab berikutnya: “Trayek Panjang Dekolonisasi”. Ini bab yang memberi keterangan penting bukan hanya kerja-kerja gerakan kerakyatan dan kebangsaan yang ujungnya dekolonisasi, tetapi bagaimana pergulatan di elite kolonial sendiri terus menyerang balik, hingga kita sebagai bangsa membayar mahal untuk kekalahan kolonial. Ironisnya, seperti diuraikan secara reflektif pada bagian empat, bagaimana wawasan dari gagasan kesetaraan di kalangan elite di Belanda tidak berhasil sampai pada cara-cara baru yang berkhasiat.

“Nilai supremasi Barat atas manusia-manusia yang dijajah telah dan terus dihidupkan dari waktu ke waktu.”

Bab delapan, “Gelombang Perubahan Kebijakan Pembangunan”, dan bab sembilan, “Esensi Demokrasi Sosial”, dapat memberi pencerahan bagaimana gagasan dan kebijakan pembangunan dari perspektif para elite di Belanda, signifikansinya serta apresiasi dan kritik-kritik dari pandangan historis dan geografi rakyat dan negeri yang bekas dikolonisasi.

Pandangan sejarah geografi dari Jan Breman semakin eksplisit dalam bab sepuluh, “Warisan Masa Lalu Kolonial”. Membaca buku ini bisa jadi akan membangkitkan suatu pikiran bahwa sebagian dari apa-apa yang terjadi di masa lalu yang kelam itu masih terjadi sekarang, sebagai warisan yang terus dilanjutkan.

Bab sebelas, bab yang terakhir, merupakan bonus. Breman mengkaji kembali hidup dan karya-karya WF Wertheim, seorang intelektual Belanda yang menjadi guru dan idolanya. Wertheim telah berhasil membentuk Amsterdamse School yang dimotori CASA, Pusat Studi-studi Asia Amsterdam. Namun, siapakah yang sekarang melanjutkan setelah meredup dan tinggal kenangan.

Penutup: Jan Breman dan Gema Kritik Pasca-Kolonial

Buku Kolonialisme, Kapitalisme, dan Rasisme mengkritik keras imperialisme, kolonialisme, dan berbagai “bentuk pasca-kolonial” Barat yang dianggapnya eksploitatif, penuh kekerasan, dan rasis. Foto-foto dan ilustrasi yang tersebar dalam buku ini memberi kekuatan atas argumen-argumen Breman. Alih-alih memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan dan “memberadabkan” penduduk pribumi, seperti yang selalu diklaim oleh elite kolonial, kolonialisme malah menguras sumber daya yang ada di wilayah jajahan —baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia— dengan merendahkan orang-orang pribumi.

ilustrasi

Bagaimana status mekanisme kolonial dan sikap elite demikian itu setelah negara-negara Barat sudah mengadopsi ide-ide pencerahan dan sosial demokrasi? Breman menjelaskan bahwa berlanjutnya praktik diskriminasi yang berasal dari sikap rasis itu tetap berlanjut di sebagian kalangan elite dan masyarakat Barat. Hidup seiring sejalan dengan paham social darwinism dan paham neoliberal yang pro pasar bebas dari kekuatan kapitalis, yang keduanya telah menjadi tempat berkembang biaknya eksklusi sosial.

Paham social darwinism mengadopsi gagasan Charles Darwin, survival of the fittest. Gagasan dasarnya bahwa ada segelintir orang berkuasa karena sejatinya memang lebih baik dan kuat dari pada yang lainnya untuk survive. Sementara itu, paham neoliberal beranggapan bahwa mekanisme pasar yang bekerja utamanya digerakkan oleh investasi modal, serta gagasan tentang perdagangan yang tidak perlu dibatasi, dan mereka dapat mengatur dirinya sendiri.

Buku ini tampil sebagai contoh utama dari studi sejarah geografi atas isu-isu publik yang berkenaan dengan Indonesia sebagai situs dari bekerjanya kekuatan-kekuatan utama pengubah wajah negeri-negeri di belahan Dunia Selatan, yang memasuki zaman pascakolonial. Pendekatan ini pernah dihadirkan buku Sejarah/Geografi Agraria Indonesia yang disunting oleh Hilmar Farid dan Ahmad Nashih Luthfi (Yogyakarta, STPN Press), https://stpnpress.stpn.ac.id/product/sejarah-geografi-agraria-indonesia/.

Kata Pengantar Bonnie Triyana, sejarawan, aktivis dan pemimpin redaksi situs informasi sejarah Historia, menunjukkan bagaimana cara pembagian sosial berdasarkan ras dan kelas masih terus berlangsung dalam hubungan antarwarga bangsa dalam keseharian hidup kita.

Dari studi-studi sejarah geografi ini, kita dapat mengerti nasib dari lapis terbawah penduduk di peedesaan dan perkotaan sebagai korban ketidakadilan historis yang melanda dari waktu ke waktu. Membaca buku ini pun membuat pertanyaan bagaimana diskriminasi yang dilakukan oleh kaum kolonial itu, juga dilakukan oleh elite, para penguasa terhadap rakyatnya di tanah air kita sendiri.

Noer Fauzi Rachman, Pendidik-penggerak dalam politik, kebijakan dan gerakan agraria Indonesia

Data Buku

Judul buku: Kolonialisme, Kapitalisme dan Rasisme. Kronik Pascakolonial.

Penulis: Jan Breman

Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Tahun terbit: Cetakan I, 2024

Tebal buku: xx + 323 halaman

ISBN: 978-623-321-279-3

Tulisan ini pernah terbit di Kompas.id pada 21 Juli 2024

Bagikan

Leave a Comment

Translate »