Pendahuluan
Pandemi COVID-19 telah mengguncang berbagai aspek kehidupan, termasuk sistem pangan global. Dalam buku “Antology Agroecology vs Pandemic COVID-19” karya Nissa Wargadipura, agroekologi diangkat sebagai konsep pertanian yang berlandaskan harmoni dengan alam. Buku ini, yang ditulis di tengah pandemi, menggambarkan bagaimana kearifan lokal dan praktik pertanian berbasis ekologi dapat menjadi solusi berkelanjutan menghadapi tantangan global.
Agroekologi: Konsep Pertanian Rahmatan Lil Alamin
Agroekologi digambarkan sebagai pendekatan pertanian yang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada keseimbangan ekosistem. Berdasarkan ajaran dalam QS Al-An’am 99 dan QS Ar-Rahman 7-9, manusia diajak untuk memahami peran mereka dalam menjaga keseimbangan alam. Nissa menekankan bahwa bertani tanpa bergantung pada benih, pupuk, dan pestisida dari luar adalah inti dari agroekologi. Hal ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada pasar global tetapi juga memperkuat ketahanan pangan lokal.
Peran Agroekologi di Masa Pandemi
Pandemi dipandang sebagai momentum untuk kembali ke jalur yang lebih berkelanjutan. Dengan meningkatnya kasus COVID-19, Nissa menyoroti pentingnya kearifan lokal seperti pengolahan temulawak, meniran, dan berbagai tanaman obat lain sebagai imun booster alami. Selain itu, pesantren ekologi yang ia kelola di Garut menjadi contoh konkret bagaimana komunitas dapat mandiri melalui praktik agroekologi.

Tantangan dan Perlawanan Petani
Salah satu isu utama yang diangkat adalah kebijakan yang tidak mendukung petani lokal. UU No. 22 Tahun 2019, misalnya, dinilai membatasi ruang gerak petani dalam mengelola sumber daya genetik. Buku ini menggambarkan bagaimana petani harus terus berjuang mempertahankan keberagaman benih lokal di tengah dominasi pasar benih multinasional.
Solusi: Menanam sebagai Jalan Keluar
Menanam bukan hanya soal menghasilkan pangan, tetapi juga menjaga ekosistem dan meningkatkan kesadaran ekologi. Dalam buku ini, Nissa mengajak masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya lokal seperti legum dan tanaman multifungsi lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa pertanian tidak hanya menjadi jalan keluar dari krisis pangan tetapi juga solusi ekologis untuk pemulihan lingkungan.

Kesimpulan
“Antology Agroecology vs Pandemic COVID-19” menawarkan perspektif yang segar dan relevan di tengah tantangan global. Buku ini menekankan pentingnya kembali ke nilai-nilai lokal, keberlanjutan, dan harmoni dengan alam. Di tengah pandemi, agroekologi bukan hanya solusi bagi petani, tetapi juga bagi masyarakat luas untuk membangun sistem pangan yang lebih resilient.