Pendahuluan
Dalam buku “Antologi Agroekologi: Bru di Juru Bro di Panto” karya Nissa Wargadipura, kita diajak menyelami peran penting agroekologi di tengah situasi pandemi COVID-19. Buku ini merekam perjalanan Pesantren Ekologi Ath Thaariq selama masa isolasi, menyoroti kearifan lokal yang dihidupkan kembali melalui kebun, pangan mandiri, dan praktik hidup berkelanjutan.
Visi Pesantren Ekologi
Pesantren Ekologi Ath Thaariq berkomitmen untuk menjadi lembaga pendidikan berbasis Islam Rahmatan Lil Alamin. Dalam bukunya, Nissa Wargadipura menekankan pentingnya membangun kedaulatan pangan melalui pendekatan agroekologi. Sistem ini tak hanya menghidupkan benih lokal, tetapi juga menjadi sarana untuk mengedukasi generasi muda agar lebih peduli pada lingkungan.
Pelajaran dari Kebun
Selama pandemi, pesantren tetap aktif dengan kegiatan bertani. Nissa berbagi cerita tentang “Kebun Acak Kadut,” di mana tanaman dibiarkan tumbuh secara alami dan tetap menghasilkan panen berlimpah. Prinsip ini mencerminkan filosofi agroekologi yang menghargai keberagaman ekosistem dan harmoni dengan alam.

Pangan Mandiri sebagai Solusi
Salah satu pelajaran penting dari buku ini adalah kemandirian pangan. Nissa menggambarkan bagaimana kebiasaan mengolah hasil kebun seperti kunyit, sorgum, dan rebung bambu menjadi makanan bergizi selama masa krisis. Proses ini tidak hanya memenuhi kebutuhan keluarga tetapi juga mengurangi ketergantungan pada pasar.
Kearifan Lokal dalam Praktik
Buku ini juga menyoroti kekayaan tradisi lokal seperti penggunaan daun “On Temurui” di Aceh dan “Lame Mareme” di Sunda sebagai bahan pangan. Tradisi ini, yang mungkin terlihat sederhana, menjadi solusi inovatif untuk meningkatkan imun tubuh di tengah pandemi.
Kreativitas dan Adaptasi di Masa Sulit
Pandemi juga menginspirasi pesantren untuk berinovasi. Salah satu contoh menarik adalah produksi teh herbal dari tanaman lokal. Selain menjadi sumber pendapatan, inovasi ini juga menunjukkan bagaimana kreativitas dapat menjadi jalan keluar di masa sulit.

Kesimpulan
Buku ini adalah pengingat bahwa kearifan lokal memiliki potensi besar untuk menciptakan solusi berkelanjutan. “Antologi Agroekologi: Bru di Juru Bro di Panto” bukan hanya dokumentasi perjalanan, tetapi juga ajakan untuk menghargai apa yang kita miliki dan memanfaatkannya dengan bijaksana. Agroekologi adalah cara untuk menyelaraskan manusia dengan alam, terutama di masa-masa penuh tantangan seperti pandemi.